Rabu, 18 September 2019

Tentang penulis

Furi Main Character

"Aku suka pada bintang dan hujan namun, takut pada senja karena kemerahannya."

Penggalan kalimat di atas bukan apa-apa sih btw, sebatas bait pembuka hehe:)
Seperti yang kalian tahu namaku Furi, penulis amatir dengan basic seorang pelukis.

Bercerita tentang literasi dan kawan-kawan, ketertarikanku pada dunia Sastra mulai terlihat sejak aku masih kanak-kanak. Pada saat itu aku hanya suka mendongeng atau berpantun. Namun, semakin beranjak dewasa kegiatan menulisku mulai aktif di masa SMP. Membuat puisi, senandika, cerpen dan sejenisnya. Hingga sekarang😁

Beberapa buku yang sudah tercantum namaku diantanya 3 buku antologi puisi dan 1 antologi cermin. "Menenun Rinai Hujan" salah satu contohnya, dan merupakan buku favoritku karena berhasil berkolaborasi dengan Eyang Sapardi Djoko Damono dan beberapa penulis terpilih Indonesia.

Kalau ditanya seputar genre, somewhat confusing hehe..

Atau kalian mau bertanya langsung padaku?
"☺" mungkin aku cuma bisa senyum wkwkw

Secara keseluruhan jika harus dideskripsikan, dengan lantang akan kukatakan "I'm a Tritagonis" kenapa? Karena dibanding antagonis atau protagonis, aku termasuk dikeduanya. Sama halnya dengan fiksi atau nonfiksi.

Kebanyakan cerita yang kuangkat berdasarkan kisah nyata, walau tidak sedikit pula hasil imajinasiku ikut berperan disana. Baik puisi, cerpen, cerbung, dll.

Sejauh ini aku bisa sangat serius ketika sedang membuat artikel, essay, dan hal-hal nonfiksi lainnya. Tapi, akan sedikit santai jika berhubungan dengan puisi, novel, dkk. Aku sendiri juga masih bingung sih ya sebenernya. Tapi, jujur aku menikmati banget, cerpen yang kubuat berdasarkan kisah nyata beberapa orang terdekatku sedangkan ketika bersama puisi keadaan sekitar dan suasana hati lebih dominan.

Jadi aku berpikir, mungkin disini tahap labilku sebagai seorang penulis muda. (Bahasa gue astaga😂)

Nah balik lagi, karena aku orang yang super santuy hampir ke pemalas deh kayaknya haha. Jadi, yaudah semua gak kuambil pusing. Aku menikmati saat-saat aku menulis, dimasa sekarang inilah mungkin prosesnya. Akan kemana aku kelak, apakah fiksi ataukah nonfiksi.

Kesimpulannya: Dari semua karyaku yang meliputi cerpen, cermin, cerbung, puisi, senandika, dll. Mereka semua punya genre fiksi dan nonfiksi tersendiri. Contoh, puisiku yang berjudul "Negeri Anak Bangsa" itu real hasil penglihatan dan yang pernah kualami waktu itu. Serta artikelku dengan judul "Cara-cara mengatasi writting block". Terlebih lagi, aku suka ketika sedang menulis kedua genre tersebut. Setidaknya untuk saat ini, aku termasuk penulis bergenre campur.





Assalamuallaikum Wr. Wb...
Berhubung aku penghuni baru di dunia per-blog-an wkwkw jadi, ya gitu deh😂

Senin, 09 September 2019

Gadis ambigu

Tulisan ini kuangkat dari kisah nyata seorang gadis belia yang selalu berada dalam zona bukan merah bukan juga hijau. Bukan pula cermin ataupun cerita fiksi sebagaimana yang biasanya kubaca di novel dan watpad. Ikuti kisah kilat Thalita,

Thalita, bukan nama tokoh yang sesungguhnya. Aku lebih suka jati dirinya tak diketahui masyarakat umum. Wajah oriental dengan senyum sempurna, lesung pipi kecil tiap ia berekspresi, potret dewi Aphrodite dikehidupan nyata. Tuturnya lembut namun, emosinya mudah terpancing. Beberapa waktu lalu sebuah peristiwa besar membuatnya menyadari bahwa keambiguan itu benar melekat padanya.

Pada saat itu, ia mengikuti sebuah program yang mengharuskannya tak boleh hanya bisa mengandalkan satu keahlian saja. Berawal dari pagi, kegiatan mereka dimulai dengan olahraga ringan, latihan tari, tes vokal, adu ketanggapan, bahkan untuk visualisasi diripun tak absen pula. 

Disana, ia merasakan bakatnya bukan disitu. Bukan pula demi keinginan orang tua dan segala macamnya. Semua murni atas kemauannya sendiri. Tak sedikit pula ia merasa lelah dan sedih dengan yang dilakukannya kini. Ketika kelas tari tiba kritik pedas selalu menghampirinya, begitupun dengan kelas vokal, kelas kebugaran, dan lain-lain.

Hingga suatu hari ia merasa betapa tak bergunanya diri ini. Dan ketika kepenatannya tak kunjung berakhir, pujian kecil justru mengiringinya bersama kritik tersebut. Dan tak pernah pula terpikirkan padanya untuk menyerah. Ia berlatih lebih keras dari teman-temannya. Siang-malam, dari Fajar mengintip hingga tertidur pulas dan mengintip kembali. Raga rapuh itu tak ingin menunjukkan kerapuhannya. 

Singkat cerita, beberapa minggu ke depan setelah latihan kerasnya. Bukannya kritik pedas itu tak hadir lagi justru semakin riuh mengawalinya. Namun, prinsipnya tetap pada titik awal. "Ambigu adalah caraku unjuk diri" pikirnya. Maka, beberapa bulan setelahnya.

Betapa beruntungnya kini ia telah berdiri dikelilingi kunang-kunang kanan-kirinya. Semua dilakukannya menggunakan kaki sendiri dengan berbagai macam hal klise. 

Sampai sekarang tawa itu selalu mengembang tiap waktu dan menyembunyikan wajah aslinya pada khalayak umum. Maka, terpenuhilah sudah pemikirannya selama ini betapa ambigu dirinya itu.

***



Assalamualaikum, jadi ceritanya first page gaes hehe. Semoga bermanfaat yak😁