Senin, 09 September 2019

Gadis ambigu

Tulisan ini kuangkat dari kisah nyata seorang gadis belia yang selalu berada dalam zona bukan merah bukan juga hijau. Bukan pula cermin ataupun cerita fiksi sebagaimana yang biasanya kubaca di novel dan watpad. Ikuti kisah kilat Thalita,

Thalita, bukan nama tokoh yang sesungguhnya. Aku lebih suka jati dirinya tak diketahui masyarakat umum. Wajah oriental dengan senyum sempurna, lesung pipi kecil tiap ia berekspresi, potret dewi Aphrodite dikehidupan nyata. Tuturnya lembut namun, emosinya mudah terpancing. Beberapa waktu lalu sebuah peristiwa besar membuatnya menyadari bahwa keambiguan itu benar melekat padanya.

Pada saat itu, ia mengikuti sebuah program yang mengharuskannya tak boleh hanya bisa mengandalkan satu keahlian saja. Berawal dari pagi, kegiatan mereka dimulai dengan olahraga ringan, latihan tari, tes vokal, adu ketanggapan, bahkan untuk visualisasi diripun tak absen pula. 

Disana, ia merasakan bakatnya bukan disitu. Bukan pula demi keinginan orang tua dan segala macamnya. Semua murni atas kemauannya sendiri. Tak sedikit pula ia merasa lelah dan sedih dengan yang dilakukannya kini. Ketika kelas tari tiba kritik pedas selalu menghampirinya, begitupun dengan kelas vokal, kelas kebugaran, dan lain-lain.

Hingga suatu hari ia merasa betapa tak bergunanya diri ini. Dan ketika kepenatannya tak kunjung berakhir, pujian kecil justru mengiringinya bersama kritik tersebut. Dan tak pernah pula terpikirkan padanya untuk menyerah. Ia berlatih lebih keras dari teman-temannya. Siang-malam, dari Fajar mengintip hingga tertidur pulas dan mengintip kembali. Raga rapuh itu tak ingin menunjukkan kerapuhannya. 

Singkat cerita, beberapa minggu ke depan setelah latihan kerasnya. Bukannya kritik pedas itu tak hadir lagi justru semakin riuh mengawalinya. Namun, prinsipnya tetap pada titik awal. "Ambigu adalah caraku unjuk diri" pikirnya. Maka, beberapa bulan setelahnya.

Betapa beruntungnya kini ia telah berdiri dikelilingi kunang-kunang kanan-kirinya. Semua dilakukannya menggunakan kaki sendiri dengan berbagai macam hal klise. 

Sampai sekarang tawa itu selalu mengembang tiap waktu dan menyembunyikan wajah aslinya pada khalayak umum. Maka, terpenuhilah sudah pemikirannya selama ini betapa ambigu dirinya itu.

***



Assalamualaikum, jadi ceritanya first page gaes hehe. Semoga bermanfaat yak😁

1 komentar:

  1. Kisahnya seperti ada yang belum terselesaikan, dinanti kisah jelasnya

    BalasHapus